Tragedi Minamata (Minamata Disease)

 Minamata Disease


Palemahan- Minamata Disease adalah salah satu bencana lingkungan yang terjadi pada tahun 1950-an hingga 1960-an di kota Minamata, Prefektur Kumamoto, Jepang. Tragedi ini bermula akibat pembuangan limbah merkuri oleh pabrik kimia Chisso Corporation ke Teluk Minamata dan Teluk Yatsushiro. Hal ini menyebabkan ribuan orang terkena dampak keracunan merkuri dan menyebabkan penyakit yang mengerikan. Karena peristiwa ini, ribuan orang meninggal dunia atau mengalami kecacatan fisik dan mental. Pada tahun 1908, Chisso Corporation memulai produksi asetat selulosa di Minamata. Proses produksi menghasilkan limbah cair yang mengandung merkuri dengan konsentrasi yang sangat tinggi. Limbah tersebut dibuang ke Teluk Minamata dan Teluk Yatsushiro selama lebih dari 30 tahun tanpa pengolahan dan pengawasan yang memadai.

   Pada awalnya, dampak dari limbah merkuri belum dirasakan oleh masyarakat, namun pada tahun 1953, sejumlah warga di Minamata mulai mengalami gejala kesehatan. Gejala ini kemudian menyebar ke seluruh kota, termasuk anak-anak yang dilahirkan dengan cacat. Pada tahun 1956, seorang dokter bernama Hajime Hosokawa melaporkan adanya wabah penyakit aneh di kota Minamata. Penyakit tersebub menyebabkan pasien mengalami gejala seperti kesulitan berbicara, kehilangan keseimbangan, kejang-kejang, kehilangan penglihatan hingga kelumpuhan. Laporan ini ditindaklunjuti dengan dilakukannya penelitian oleh tim medis dari Universitas Kyushu dan menemukan bahwa penyebab utama dari penyakit tersebut adalah akibat keracunan merkuri. Keracunan merkuri dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf, kerusakan otak, dan kerusakan organ. Hal ini menimbulkan dampak lanjutan seperti kecacatan fisik dan mental, gangguan perkembangan pada anak, hingga kematian.

   Menurut data resmi pemerintah Jepang, sekitar 2.265 orang menjadi korban pada kejadian Minamata Disease. Dari jumlah tersebut, 1.784 orang tercatat meninggal dunia hingga tahun 2020. Namun, beberapa sumber mengklaim bahwa jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang dipyblikasikan oleh pemerintah Jepang. Pada awalnya, pemerintah jepang enggan mengakui adanya wabah penyakit karena limbah merkuri dari Chisso Corporation, dan masih melakukan produksi dan pembuangan limbah ke Teluk Minamata. Namun, investigasi dari media internasional dan tekanan dari masyarakat membuat pemerintah Jepang akhirnya mengakui peristiwa tersebut pada tahun 1968 dan memulai upaya-upaya untuk membersihkan Teluk Minamata. Pada tahun 1972, pemerintah Jepang resmi menetapkan undang-undang terkait pengendalian limbah yang ketat untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa. Pemerintah Jepang juga memberikan kompensasi kepada korban terdampak tragedi Minamata.

   Selain dampak terhadap kesehatan manusia, peristiwa ini juga memberikan dampak yang sangat buruk bagi lingkungan. Limbah merkuri menyebabkan menurunnya populasi populasi ikan, kerang, dan udang secara signifikan di perairan tersebut. Kontaminasi merkuri juga menyebar ke seluruh rantai makanan, dan berpengaruh terhadap rantai makanan pada tingkat trofik yang lebih tinggi seperti burung laut, lumba-lumba, dan mamalia laut lain nya. Beberapa jenis hewan bahkan terancam punah karena dampak dari kontaminasi merkuri ini. Limbah merkuri juga menyebar ke tanah dan udara di sekitar kota Minamata yang menyebabkan hasil pertanian dan air minum di sekitar kota tidak aman untuk dikonsumsi. Dampak lingkungan dari tragedi Minamata sangat signifikan dan terus berlanjut hingga saat ini. 

   Meskipun pemerintah dan perusahaan telah melakukan upaya untuk membersihkan lingkungan, tetapi kontaminasi merkuri yang terdapat di dalam air dan tanah masih berdampak pada kesehatan manusia dan hewan di sekitar kota tersebut. Upaya pembersihan Teluk Minamata selama beberapa dekade belum bisa menghilangkan kandungan merkuri pada wilayah tersebut, terutama pada lumpur di dasar perairan. Selain itu, organisme dan hewan di sekitar teluk Minamata masih menunjukkan adanya gejala keracunan merkuri hingga saat ini. Minamata Disease adalah contoh penting dari bagaimana tindakan manusia dapat berdampak buruk pada lingkungan yang akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Selain itu, peristiwa ini juga menunjukkan pentingnya kebijakan pemerintah yang ketat terkait pengawasan pengelolaan limbah industri yang berbahaya bagi lingkungan. Masyarakat juga dapat berperan dalam menghindari kerusakan lingkungan dengan melakukan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan, seperti memilih produk yangyang ramah lingkungan, meminimalisir penggunaan bahan kimia berbahaya, dan mendukung kampanye yang mempromosikan praktik industri yang bertanggung jawab.

Baca juga: The Love Canal Disaster


Referensi:
Harada, M. (1995). Minamata disease: Methylmercury poisoning in Japan caused by environmental pollution. Critical Reviews in Toxicology, 25(1), 1-24. 
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Standard Alat Pelindung Diri (APD). Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: pafikabpulangpisau.org
Mahaffey, K. R. (1999). Environmental lead toxicity: Nutrition as a component of intervention. Environmental Health Perspectives, 107(Suppl 1), 155-162.
Minamata City. (2021). Minamata Disease. Retrieved from http://www.city.minamata.lg.jp/english/
United Nations Environment Programme (UNEP). (2019). Global Chemicals Outlook II. Retrieved from https://www.unep.org/resources/report/global-chemicals-outlook-ii
World Health Organization (WHO). (2010). Exposure to mercury: A major public health concern. Retrieved from https://www.who.int/ipcs/features/mercury.pdf
Yokoyama, K., et al. (2014). The effectiveness of continuous removal of mercury vapor by activated carbon fiber cloth in a fish market in Minamata, Japan. Journal of Environmental Science and Health, Part A, 49(10), 1221-1229.

0 Comments